Sebutlah namanya Fulan. Sudah 21 tahun ia menikah dengan seorang wanita bernama Fulanah.
Tepat di usia ke 21 pernikahannya,
sang istri pun bertanya menawarkan
Tepat di usia ke 21 pernikahannya,
sang istri pun bertanya menawarkan
istri si Fulan : "Bang, tak berkenankah kau makan malam bersama seorang wanita?”
Sang suami yang memang tak memiliki saudara dan anak wanita itu bertanya kebingungan,
Fulan : "maksudmu ?"
istri si Fulan : "Besok, Keluarlah untuk makan malam bersama ibu".
istri si Fulan : "Besok, Keluarlah untuk makan malam bersama ibu".
rupanya si Fulan ini amat sibuk mengurusi keluarga, pekerjaan dan kehidupannya.istrinya pun melanjutkan percakapannya
istri si Fulan : “sudah 21 tahun sejak menikah denganku kau tak pernah makan malam bersama ibu”.
kata sang istri sambil menerangkan maksudnya
Fulan : "iya ya.. aku gk pernah pergi bersama ibu ku, makan bersama ibuku"
Fulan : "iya ya.. aku gk pernah pergi bersama ibu ku, makan bersama ibuku"
istri si Fulan : “Teleponlah beliau, ajaklah makan malam. Beliau pasti amat mendambakan kebersamaan denganmu.”
Segeralah sang suami menelepon sang ibu.
Dalam perbincangan lewat telefon itu, disampaikanlah maksudnya.
Fulan : "Ummi, ana kepingin makan dengan ummi besok malam"
sang ibu yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat sumringah mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan mengagetkan dari anak yang amat disayanginya. Pasalnya, masa 21 tahun bukanlah bilangan waktu yang sebentar.
ibu : "kau gak ada apa-apa, gak ada masalah kan ? bagaimana istri mu dan bagaimana dengan anakmu ?"
Fulan : " Iya Ummi,Besok habis Isya' ana jemput di rumah"
Hari yang direncanakan pun menyapa. Fulan menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di rahang pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, sang ibu langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.
sampai di mobil anak itu di lihatin sama ibunya.
sang anak pun berbicara dalam hatinya
anak(fulan) : "ana tidak melihat orang yang lebih bahagia dari ibu ana "
sang anak pun berbicara dalam hatinya
anak(fulan) : "ana tidak melihat orang yang lebih bahagia dari ibu ana "
si ibu pun membuka pembicaraan.
ibu : "wahai anak ku, tiada orang di kampung ini kecuali kau, aku mau keluar bersama engkau"
Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju dan santap malam ini. Tak lama, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.
Lamat-lamat, sang anak memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya(ayahnya).
Duhai, sang anak ini sampai lupa membelikan pakaian untuk ibunya.
Maka datanglah pelayan pembawa menu. Disodorkanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ibunya pun hanya bisa merhatikan menunya saja karena tak kuasa membaca.
dengan senyum si Fulan menawaran
Fulan : "Sini, Ummi ana bacakan menunya"
Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang dihidangkan, tak lama kemdian.
Bersebab bahagianya yang memuncak lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan sang ibu tenggelam seketika. Sama sekali tak berminat untuk mencicipi, apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memerhaikan anaknya, dengan cinta dan rindu yang kian bertambah.
Di tengah menikmati menu makan malamnya, si Fulan berkata,
Fulan : “Ummi, ini yang pertama sejak 21 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Esok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua.”
Mendengar kalimat itu, mata sang ibu berbinar sumringah. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pulang. Sang anak mengantarkan ibunya ke kediamannya, sementara ia kembali ke rumahnya.
Waktu-waktu selepas itu, adalah waktu menuggu nan membahagiakan bagi sang ibu. Ditungguilah ponselnya guna berharap panggilan dari anaknya. Sementara itu, di belahan tempat lain, sang anak tetap sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia, benar-benar lupa dengan janji yang diungkapkannya sendiri.
Lantaran usia yang menua, sang ibu pun sakit. Makin hari, bertambah parah sakitnya. Alasan sibuk pun membuat Fulan tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut itu wafat sebelum sang anak sempat menjenguknya.
Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar. Ada haru nan pilu yang menelisik ke dalam hati Fulan. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.
Lepas pulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatklah oleh si Fulan. Tertera dalam layar, pemanggil adalah ruma makan tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari.
penelpon : "halo, bisa bicara pak Fulan bin Fulan"
Fulan : "iya, saya sendiri"
penelpon: “Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya suda dibayar oleh Ibu anda.”
Entahlah apa yang dirasa olehnya. Tanpa penutup, dimatikanlah ponselnya sembari bergegas menuju rumah makan tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan tertulis tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya
“Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makanlah bersama istri dan anak mu. Aku sudah membayarnya untukmu dengan uang Ibu.”
Ibu Kita itu tak pernah lupa sama kita, meskipun kita jauh di sebrang lautan, dia pasti menanyakan kabarkita. cuma hanya kita yang sering lupa sama ibu kita
****
“Ibu, Ibu, Ibu,” demkianlah pesan Rasulullah Saw. Sosok mulia itu harus didahulukan dari sosok bapak. Sosok ibu adalah mutiara kebaikan nan tak tergantikan. Selalu ada mutiara yang bisa digali darinya. Pasti ada hikmah dari wanita yang mungkin saja, sudah kita sia-siakan sejak lama.
Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia.
Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia.
****
sumber : kisah ini di sampaikan oleh
sumber : kisah ini di sampaikan oleh
Ustadz Syafiq Riza basalamah dalam salah satu ceramah beliau
Comments
Post a Comment